Saat pertama kali mendengar nama beliau, jujur saya tidak mengenalnya sama sekali. Saya hanya mengetahui bahwa beliau sebelum diangkat menjadi Menteri Informasi dan Komunikasi Republik Indonesia, beliau adalah rektor ITS dan keahliannya adalah di bidang Teknologi Informasi dan Komunikasi. Kesan pertama saya terhadap beliau adalah “Orang yang tepat di tempat yang tepat”, mengingat beliau adalah seorang akademisi dan pos kementrian yang Ia isi sangat sesuai dengan latar belakang pendidikannya. Namun setelah saya melihat gelar-nya lebih lanjut di Wikipedia, saya terkejut. Prof. Dr. Ir. KH. Muhammad Nuh, DEA. Bukan gelar terakhir yang beliau peroleh seusai studi pasca sarjana-nya di Perancis, melainkan gelar keempat, Kiai Haji.
Muhammad Nuh adalah anak ketiga dari 10 bersaudara. Lahir pada 17 Juni 1959, beliau tumbuh dalam keluarga petani yang sederhana, namun religius. Hal ini karena ayah beliau, H. Muchammad Nabhani, adalah pendiri Pondok Pesantren Gununganyar Surabaya. Inilah salah satu faktor mengapa beliau kelak dijuluki Kiai Haji. Semenjak kecil beliau juga sudah dikenal berotak encer, hingga beliau dapat memperoleh S1 Jurusan Teknik Elektro Institut Teknologi 10 November Surabaya (ITS). Beliau pun diangkat menjadi dosen di bidang tersebut setelah lulus. Namun baru 3 tahun Ia melaksanakan tugasnya, berkat kecerdasannya beliau mendapatkan beasiswa untuk melanjutkan studinya ke Universite Science et Technique du Languedoc Montpellier, Prancis, jurusan Teknik Biomedika. Di Prancis inilah beliau mendapatkan gelar S2 (1987) dan S3 (1990). Di sini pulalah beliau memperoleh putri satu-satunya, Rachma Rizqina Mardhotillah pada 20 Desember 1989, dari istri beliau Drg. Layly Rahmawati.
Dalam disertasinya yang bertajuk "Realisation du System de Controle de l`Appareil d`Hyperthemie Superficielle ATS 2000" , beliau mengembangkan suatu sistem peralatan untuk terapi superficial bagi penderita kanker kulit. Alat itu masih digunakan di rumah sakit kanker kulit, Val d`Aurelle Montpellier Prancis.
Sepulangnya beliau ke Indonesia, beliau dipercaya menjadi Sekretaris Program Studi D3 Teknik Elektro ITS (1991-1992), namun tidak lama kemudian beliau dipercaya menjadi Pembantu Direktur III Politeknik Elektronika Negeri Surabaya (PENS-ITS) (1992-1997). Hingga beliau diangkat menjadi Direktur PENS-ITS (1997-2003). Semasa beliau menjabat, PENS-ITS dipercaya oleh Japan Industrial Corporation Agency sebagai rekanan hingga kini. Melihat track-record beliau sebagai seorang akademisi kian baik, akhirnya beliau dipasrahi jabatan tertinggi dalam lingkup akademisi ITS, yaitu Rektor ITS pada tanggal 15 Februari 2003, sekaligus diangkat menjadi profesor dalam bidangnya.
Sederet prestasi akademis rupanya tidak menjadikan M. Nuh sebagai Ilmuwan yang asyik dengan bidangnya sendiri. Beliau telah menghasilkan tiga buku semasa beliau menjadi Rektor, salah satunya adalah Startegi dan Arah Kebijakan Pemanfaatan Teknologi Informasi dan Komunikasi. Selain itu, beliau juga sering menulis artikel di media masssa mengenai berbagai hal, salah satunya dalam bidang religi.
Inilah sisi unik yang lain dalam diri M. Nuh, seorang Kiai Haji. Tidaklah aneh jika anda berjalan-jalan di kota Surabaya dan mendapati beliau sedang mengisi khutbah Jum’at. Sekedar mengingatkan, khutbah Idul Adha di Masjid Istiqlal 8 Desember 2008 lalu, juga beliau. Semasa beliau masih menjadi dosen di ITS, beliau selalu hadir dalam forum diskusi Jama’ah Masjid ITS setiap malam Jum’at ba’da Maghrib. M. Nuh, menurut pengakuan mahasiswa-mahasiswa ITS, juga sering terlihat sedang I’tikaf di masjid setiap malan semasa Bulan Ramadhan.
Tidak hanya itu, beliau pernah menjabat sebagai Ketua Ikatan Cendekiawan Muslim se-Indonesia Jawa Timur, Sekretaris Yayasan Dana Sosial Al Falah Surabaya, Ketua Pengurus Yayasan Rumah Sakit Islam Surabaya, Ketua Yayasan Pendidikan Al Islah Surabaya, Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Jatim, dan Pengurus Maarif Nahdlatul Ulama (NU) Cabang Surabaya.
Profesionalisme dan dedikasi yang tinggi dalam setiap bidang yang Ia tekuni ini pulalah yang mengantarkan beliau satu tangga lebih tinggi lagi. Setelah melalui berbagai pertimbangan dan mendengar paparan beliau mengenai perkembangan TIK di Indonesia, maka diputuskanlah pada Reshuffle ke dua Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mengikutsertakan M. Nuh dalam Kabinet Indonesia Bersatu, sebagai Menkominfo menggantikan Sofyan Djalil. Peristiwa itu tercatat pada tanggal 9 Mei 2007
Langkah Presiden SBY sangat tepat. M. Nuh, dibalik sosok beliau yang terkesan adem-ayem, rupanya berani dalam membuat berbagai keputusan-keputusan. Salah satu tindakan beliau yang cukup berani adalah terkait masalah Fitna, beliau berani memblokir berbagai situs yang memuat video yang dianggap melecehkan Islam tersebut. Langkah yang kontroversial dan dikecam “Membunuh rusa dengan membakar hutan”. Selain itu, dibawah kepemimpinannya, Depkominfo berhasil meng-golkan Undang Undang Informasi dan Transaksi Elektronik (UU-ITE). Undang-undang ini pun lagi-lagi mendapatkan kecaman, karena dianggap memasung kebebasan informasi dalam dunia maya, dimana salah satunya situs-situs yang berbau pornografi dilarang beredar di Indonesia. Namun The Show Must Goes On. Namun M. Nuh berpegang teguh kepada satu misi yang Ia emban, yaitu menyediakan informasi yang bebas dan bertanggung jawab. Karena menurut beliau, "Ikon teknologi saat ini bukan pabrik atau komputer, melainkan informasi, karena itu teknologi dan informasi harus dikemas `partner` untuk menggerakkan pendidikan, ekonomi, pemerintahan, dan sebagainya,".
Dibalik prestasi dan titel beliau, beliau tetaplah orang yang sederhana dan bersahaja serta berwawasan luas. Dalam suatu kesempatan beliau tidak sungkan-sungkan diajak berdialog dengan blogger-blogger, terkait masalah UU-ITE. Beliau pun masih sering mengisi khutbah Jum’at di berbagai masjid. Bahkan rumah beliau pun masihlah Rumah bercat coklat yang terletak di Jalan Rungkut Asri Utara Nomor 5, Surabaya, Jawa Timur, sebuah rumah yang nampak sederhana dibandingkan rumah2 di sekitarnya yang nampak mewah.
"Hidup ialah ibarat sekolah, ada proses belajar dan ada soal saat ujian. Soal ujian ada untuk dijawab, bukan untuk dijadikan soal baru" –Muhammad Nuh, saat khutbah Idul Adha 1429 H.
------------------------
Boleh kita update lagi ya? 12:50 waktu memulai update, 14 Mei 2013.
Aku enggak tahu apa yang terjadi, mengapa beliau bisa sampai sekarang. Maaf pak, tetapi kali ini bapak memang sedikit kelewat batas. Yaaa, betul seperti kata orang-orang, baik saja memang tidak cukup. Saya sangat mengerti dan paham, Pak Nuh ini niatnya pasti baik. Tetapi sayang, caranya salah. Kemudian, seperti bapakkuyang Jawa Timuran, apalagi Surabaya, Pak Nuh mungkin ada rasa ngeyelnya. Persis seperti bapakku.
Yah, bapak, aku enggak berani berkomentar apa-apa, karena sudah sedemikian banyaknya komentar buruk terhadap bapak. Aku khawatir, berkomentar hanya akan menjadikan diriku bias, tidak melihat bapak dari berbagai sisi. Bagaimanapun 'kan, dahulu bapak membuat beasiswa bidik misi, iya 'kan ya? Berkat beasiswa itu tentu, makin banyak teman-teman baik saya kini di ITB (karena banyak dari mereka yang bisa masuk karena bidikmisi.)
Tetap semangat pak. Ingat, bersikaplah seperti kesatria, bila kelak bapak menyadari ada kesalahan, akuilah dan minta maaflah secara terbuka.