21/05/13




 How many special people change?
How many lives are living strange?
Where were you while we were getting high?
Slowly walking down the hall

Faster than a cannonball
Where were you while we were getting high?
Someday you will find me
Caught beneath the landslide

In a champagne supernova in the sky
Someday you will find me
Caught beneath the landslide
In a champagne supernova

A champagne supernova in the sky
Wake up the dawn and ask her why
A dreamer dreams, she never dies
Wipe that tear away now from your eye

Slowly walking down the hall
Faster than a cannonball
Where were you while we were getting high?
Someday you will find me

Caught beneath the landslide
In a champagne supernova in the sky
Someday you will find me
Caught beneath the landslide

In a champagne supernova
A champagne supernova
'Cause we don't believe
That they're gonna get away from the summer

But you and I will never die
The world's still spinning around we don't know why
Why-why-why-why-i-i

How many special people change?
How many lives are living strange?
Where were you while we were getting high?
Slowly walking down the hall

Faster than a cannonball
Where were you while we were getting high?
Someday you will find me
Caught beneath the landslide

In a champagne supernova in the sky
Someday you will find me
Caught beneath the landslide
In a champagne supernova

A champagne supernova
'Cause we don't believe
That they're gonna get away from the summer
But you and I will never die

The world's still spinning around we don't know why
Why-why-why-why-i-i

How many special people change?
How many lives are living strange?
Where were you while we were getting high?
We were getting high <-- 9 times, background "Oooh-oooh"

------------

Champagne Supernova, by Oasis. Ada tanggung jawab yang harus dituntaskan, mudah-mudahan amanah memang datang karena kemuliaan. Bismillaah, sikat sih dit yaaa. Selesaikan apa yang udah kuucapkan kali ini.

Btw, kenapa lagunya begini? Soalnya cocok banget sob haha, emang yang namanya jodoh enggak ada yang tahu ya? Bener-bener kayak lagu, bisa aja mungkin setahun kemarin lagunya itu lagi ke-pause. Ye gak? Tapi, tolong ya kali ini, kalau mau nunggu lagi sok silahkan lanjutkan, karena aku gak mau ngulangin kesalahan yang sama. Kalau mau sabar ya. Kalau enggak mau, silahkan ada lebih banyak orang yang prinsipnya lain yang pasti lebih cocok.

Tungguin ya? Mudah-mudahan memang langit lebih cerah kali ini.

17/05/13


All you need is love, kalau kata The Beatles.

Cinta orang tua, itu enggak pernah ada batasnya. Kadang, menyenangkan orang tua itu bisa dengan cara yang paling mudah : turutilah kata mereka, bahkan termasuk apabila mereka ingin menghadiahi anaknya sesuatu. Ya, kita mungkin punya banyak alasan untuk berkata tidak terhadap hadiah dari mereka berdua. Kita sudah dewasa salah satu alasannya. Ingin mandiri, gengsi menerima pemberian orang tua terus menerus.

Tetapi, sekali-sekali, apa salahnya menerima hadiah dari mereka berdua...? Enggak dong ya. Orang tua, sama seperti namanya, sudah tua, beranjak tua, dan akan semakin tua, meninggalkan kita yang masih muda-muda dan (biasanya) sehat-sehat. Semakin tua mereka, kita juga ikut-ikutan bertambah tua. Orang tua akan kemudian mengenang masa-masa indah, ketika kita pertama kali lahir, kemudian beranjak anak-anak, lalu mulai merengek minta dibelikan ini-itu.

Saat itu, dulu, mungkin kita akan menemui banyak "Tidak ya nak.", tentu itu semata-mata supaya kita menjadi pribadi yang tangguh dan mandiri di kemudian hari. Ya, alhamdulillaah, didikan orangtuaku dapat kukatakan berhasil. Menjelang berhasil ........

Tetapi, maafkanlah diri kita sendiri, orang tua kita tidak akan lama lagi bersama kita, atau bisa saja sebaliknya. Selagi masih sempat, sedewasa apapun kita, biarkan orang tua kita merasakan senangnya, lebarnya senyum kita, saat menerima hadiah daari mereka.....

As simple as that.

Doakanlah mereka, .... dan diri kita, mudah-mudahan kita sebagai anak mampu membanggakan mereka.

-----

Melihat bapak dan ibu di usia yang sudah jam empat-setengah lima sore ini, sungguh entah mengapa menyenangkan sekali. Tidak nampak sedikitpun kebosanan dalam diri mereka berdua. Betapapun cerewetnya ibu, atau betapapun. tidak-ambil-pusing nya bapak, mereka selalu klop. Mereka berdua, adalah yang dimaksud dengan menikmati hidup.....living life to the fullest. Dalam diamnya, aku bisa selalu melihat harapan mereka kini tinggal menghabiskan sisa-sisa jam dalam hidup mereka, dalam damai, bahagia, dan melihat anaknya menjadi sukses kelak.....

Yes, all you need is love :')

-----

Masih minta maaf lho ya pak, bu, aku belum bisa membawakan kebahagiaan yang sama seperti setahun kebelakang untuk kali ini. Entah, aku masih lelah. Ya, rasa bersalah itu masih memelukku dari mana-mana. Supermarket, hujan, rumah sakit, dan rumah lama. Rasa bersalah itu masih jahat, dia benar-benar defek dan menyisakan bekas yang tidak akan pernah hilang. Sama seperti bekas di paru-paru ini, tidak akan pernah hilang. Begitulah vonis dokter tadi pagi. Bekas ini pun akan mengakibatkan hipersensitif.

Mudah-mudahan, rasa bersalah itu kelak akan berubah menjadi sebatas ingatan baik saja. Terimakasih, sekali lagi. Tentu kamu sebagai calon ibu, adalah yang paling berhak untuk memilih siapa suami yang terbaik untuk anak-anakmu, bukan? Ibu adalah hal yang harus diutamakan, menurutku kini, termasuk adalah calon-calon ibu selanjutnya, ya?

Yang aku perlukan kini hanya belajar mengendalikan marah, dan menghilangkan rasa bersalah itu. Sebab, rasa bersalah sering mendorong rasa marah untuk ikut serta bangkit.

16/05/13


Sebenernya, lagu ini itu isinya tentang doa Ave Maria-nya sahabat kita yang beragama Kristen sih.

Tapi, entah kenapa, nyantol terus di kuping udah dari jaman SMA kelas tiga. Lagu ini tuh selalu entah mengapa aku kaitin dengan situasi-situasi yang sedih. Sedih banget, apalagi yang membawakan biolanya itu om Yehudi Menuhin. Selalu menyayat hati setiap mendengarnya.

----

Tumben-tumbenan nih pulang ke Cinere, padahal masih ada UAS. Yaaah, berobat untuk terakhir kalinya, mudah-mudahan, si paru ini udah bener, lepas obat, terus bisa riang-riang gembira lagi. Mudah-mudahan ya o:)

Enggak deng, situasi rumah kali ini campur aduk banget.

Papa bener-bener pensiun. Kali ini, jabatan barunya beliau lepas secara ikhlas. Satu hal : idealisme. Yah, sepintas naluri keteknikan aku sih nangkep kenapa papa melepas pekerjaannya. Kacau banget sih sob emang, kalau urusan teknik udah campur-aduk dengan politik. Ekonomi campur politik juga. Ah intinya, politik busuk sob. Satu pesan bapakku dalam bincang-bincang sore tadi adalah :

"Ngapain papa kerja kalau ide papa enggak dipake?"

Aku salut banget, di usia papa yang sudah pukul setengah lima sore, papa masih seperti papa. Kuat, berani, dan tegas. Ini makin menegaskanku akan sikap aku kemarin, ngapain kita bertahan pada suatu lingkungan kalau itu bertentangan dengan nurani kita? Do or do not, there is no try.

Rumah sepi, kakak mulai tenggelam lagi dalam penelitian dan riset-risetnya. Kakak ini emang orang yang dianugerahi kepintaran linguistik yanng nomor satu. Bayangin, semester 1 kuliah S2, enggak kurang dari 4,0 tuh IPK-nya. Dapetlah rezeki dari tempat dia kuliah, yaaa cukuplah untuk bayar DP 3/4 dari harga motor-motor sekarang. Edan.

Ya, tapi itu, rumah sepi.....

Papa makin kurus lho sekarang, mama juga. Aku sadar banget, hidup bener-bener maju, enggak pernah hidup itu mundur. Satu tahun lagi aku harus lulus, dan mengabdikan diriku di suatu kegiatan bernama Indonesia Mengajar. Yah, pa, maafkan aku, dalam lubuk hati ini, menjadi seorang guru (guru ya bukan dosen) masih nomor satuku. Panggilan hati. Bismillaah. Alhamdulillaah beliau menyetujuinya. Mudah-mudahan ya pa?

Terus, bingkai di kamarku sekarang udah enggak ada. Iya, bingkai dari yang bersangkutan di masa lalu. Aku enggak ngerti siapa yang menyingkirkannya, yang jelas udah kucari di penjuru rumah, enggak ketemu tuh. Di gudang enggak ada, di lemariku enggak ada, dan yang jelas bukan di kosanku. Kamu, aku minta maaf ya, ya anggap saja ini konsekuensi lanjutan oleh orang-orang yang sudah terlanjur dekat denganmu pula.

----

Pembicaraan dengan papa pun sudah bukan pembicaraan tentang masuk jurusan apa, apa masa depan kamu, atau kamu suka sama siapa, melainkan "Apa rencana kedepan kamu?"

Rencana kedepan...

Terus, aku membaca sebuah surat di meja makan, dan wow......yah, kehidupan benar-benar bergerak maju. Semua sudah berubah, kenangan-kenangan masa lalu, kini berubah menjadi data dan statistik. Pembicaraan keluarga besar tidak pernah sehangat ini. Aku makin sadar, tinggal beberapa langkah lagi sebelum aku memasuki dunia orang dewasa, dunia yang penuh dengan tanggung jawab.

Bisa apa aku?

Mungkin bermain tehyan, dan berenang, ah itupun masih amatir.

----

Hmm....bismillah deh ya. Semangat UAS sikik lagi selesai.

14/05/13

Muhammad Nuh: Kiai Haji Teknologi



Saat pertama kali mendengar nama beliau, jujur saya tidak mengenalnya sama sekali. Saya hanya mengetahui bahwa beliau sebelum diangkat menjadi Menteri Informasi dan Komunikasi Republik Indonesia, beliau adalah rektor ITS dan keahliannya adalah di bidang Teknologi Informasi dan Komunikasi. Kesan pertama saya terhadap beliau adalah “Orang yang tepat di tempat yang tepat”, mengingat beliau adalah seorang akademisi dan pos kementrian yang Ia isi sangat sesuai dengan latar belakang pendidikannya. Namun setelah saya melihat gelar-nya lebih lanjut di Wikipedia, saya terkejut. Prof. Dr. Ir. KH. Muhammad Nuh, DEA. Bukan gelar terakhir yang beliau peroleh seusai studi pasca sarjana-nya di Perancis, melainkan gelar keempat, Kiai Haji.

Muhammad Nuh adalah anak ketiga dari 10 bersaudara. Lahir pada 17 Juni 1959, beliau tumbuh dalam keluarga petani yang sederhana, namun religius. Hal ini karena ayah beliau, H. Muchammad Nabhani, adalah pendiri Pondok Pesantren Gununganyar Surabaya. Inilah salah satu faktor mengapa beliau kelak dijuluki Kiai Haji. Semenjak kecil beliau juga sudah dikenal berotak encer, hingga beliau dapat memperoleh S1 Jurusan Teknik Elektro Institut Teknologi 10 November Surabaya (ITS). Beliau pun diangkat menjadi dosen di bidang tersebut setelah lulus. Namun baru 3 tahun Ia melaksanakan tugasnya, berkat kecerdasannya beliau mendapatkan beasiswa untuk melanjutkan studinya ke Universite Science et Technique du Languedoc Montpellier, Prancis,  jurusan Teknik Biomedika. Di Prancis inilah beliau mendapatkan gelar S2 (1987) dan S3 (1990). Di sini pulalah beliau memperoleh putri satu-satunya, Rachma Rizqina Mardhotillah pada 20 Desember 1989, dari istri beliau Drg. Layly Rahmawati.

Dalam disertasinya yang bertajuk "Realisation du System de Controle de l`Appareil d`Hyperthemie Superficielle ATS 2000" , beliau mengembangkan suatu sistem peralatan untuk terapi superficial bagi penderita kanker kulit. Alat itu masih digunakan di rumah sakit kanker kulit, Val d`Aurelle Montpellier Prancis.

Sepulangnya beliau ke Indonesia, beliau dipercaya menjadi Sekretaris Program Studi D3 Teknik Elektro ITS (1991-1992), namun tidak lama kemudian beliau dipercaya menjadi Pembantu Direktur III Politeknik Elektronika Negeri Surabaya (PENS-ITS) (1992-1997). Hingga beliau diangkat menjadi Direktur PENS-ITS  (1997-2003). Semasa beliau menjabat, PENS-ITS dipercaya oleh Japan Industrial Corporation Agency sebagai rekanan hingga kini. Melihat track-record beliau sebagai seorang akademisi kian baik, akhirnya beliau dipasrahi jabatan tertinggi dalam lingkup akademisi ITS, yaitu Rektor ITS pada tanggal 15 Februari 2003, sekaligus diangkat menjadi profesor dalam bidangnya.

Sederet prestasi akademis rupanya tidak menjadikan M. Nuh sebagai Ilmuwan yang asyik dengan bidangnya sendiri. Beliau telah menghasilkan tiga buku semasa beliau menjadi Rektor, salah satunya adalah Startegi dan Arah Kebijakan Pemanfaatan Teknologi Informasi dan Komunikasi. Selain itu, beliau juga sering menulis artikel di media masssa mengenai berbagai hal, salah satunya dalam bidang religi.
Inilah sisi unik yang lain dalam diri M. Nuh, seorang Kiai Haji. Tidaklah aneh jika anda berjalan-jalan di kota Surabaya dan mendapati beliau sedang mengisi khutbah Jum’at. Sekedar mengingatkan, khutbah Idul Adha di Masjid Istiqlal 8 Desember 2008 lalu, juga beliau. Semasa beliau masih menjadi dosen di ITS, beliau selalu hadir dalam forum diskusi Jama’ah Masjid ITS setiap malam Jum’at ba’da Maghrib. M. Nuh, menurut pengakuan mahasiswa-mahasiswa ITS, juga sering terlihat sedang I’tikaf di masjid setiap malan semasa Bulan Ramadhan.

Tidak hanya itu, beliau pernah menjabat sebagai Ketua Ikatan Cendekiawan Muslim se-Indonesia Jawa Timur, Sekretaris Yayasan Dana Sosial Al Falah Surabaya, Ketua Pengurus Yayasan Rumah Sakit Islam Surabaya, Ketua Yayasan Pendidikan Al Islah Surabaya, Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Jatim, dan Pengurus Maarif Nahdlatul Ulama (NU) Cabang Surabaya.

Profesionalisme dan dedikasi yang tinggi dalam setiap bidang yang Ia tekuni ini pulalah yang mengantarkan beliau satu tangga lebih tinggi lagi. Setelah melalui berbagai pertimbangan dan mendengar paparan beliau mengenai perkembangan TIK di Indonesia, maka diputuskanlah pada Reshuffle ke dua Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mengikutsertakan M. Nuh dalam Kabinet Indonesia Bersatu, sebagai Menkominfo menggantikan Sofyan Djalil. Peristiwa itu tercatat pada tanggal 9 Mei 2007

Langkah Presiden SBY sangat tepat. M. Nuh, dibalik sosok beliau yang terkesan adem-ayem, rupanya berani dalam membuat berbagai keputusan-keputusan. Salah satu tindakan beliau yang cukup berani adalah terkait masalah Fitna, beliau berani memblokir berbagai situs yang memuat video yang dianggap melecehkan Islam tersebut. Langkah yang kontroversial dan dikecam “Membunuh rusa dengan membakar hutan”. Selain itu, dibawah kepemimpinannya, Depkominfo berhasil meng-golkan Undang Undang Informasi dan Transaksi Elektronik (UU-ITE). Undang-undang ini pun lagi-lagi mendapatkan kecaman, karena dianggap memasung kebebasan informasi dalam dunia maya, dimana salah satunya situs-situs yang berbau pornografi dilarang beredar di Indonesia. Namun The Show Must Goes On. Namun M. Nuh berpegang teguh kepada satu misi yang Ia emban, yaitu menyediakan informasi yang bebas dan bertanggung jawab. Karena menurut beliau, "Ikon teknologi saat ini bukan pabrik atau komputer, melainkan informasi, karena itu teknologi dan informasi harus dikemas `partner` untuk menggerakkan pendidikan, ekonomi, pemerintahan, dan sebagainya,".

Dibalik prestasi dan titel beliau, beliau tetaplah orang yang sederhana dan bersahaja serta berwawasan luas. Dalam suatu kesempatan beliau tidak sungkan-sungkan diajak berdialog dengan blogger-blogger, terkait masalah UU-ITE. Beliau pun masih sering mengisi khutbah Jum’at di berbagai masjid. Bahkan rumah beliau pun masihlah Rumah bercat coklat yang terletak di Jalan Rungkut Asri Utara Nomor 5, Surabaya, Jawa Timur, sebuah rumah yang nampak sederhana dibandingkan rumah2 di sekitarnya yang nampak mewah.

"Hidup ialah ibarat sekolah, ada proses belajar dan ada soal saat ujian. Soal ujian ada untuk dijawab, bukan untuk dijadikan soal baru" –Muhammad Nuh, saat khutbah Idul Adha 1429 H.

------------------------

Boleh kita update lagi ya? 12:50 waktu memulai update, 14 Mei 2013.

Aku enggak tahu apa yang terjadi, mengapa beliau bisa sampai sekarang. Maaf pak, tetapi kali ini bapak memang sedikit kelewat batas. Yaaa, betul seperti kata orang-orang, baik saja memang tidak cukup. Saya sangat mengerti dan paham, Pak Nuh ini niatnya pasti baik. Tetapi sayang, caranya salah. Kemudian, seperti bapakkuyang Jawa Timuran, apalagi Surabaya, Pak Nuh mungkin ada rasa ngeyelnya. Persis seperti bapakku.

Yah, bapak, aku enggak berani berkomentar apa-apa, karena sudah sedemikian banyaknya komentar buruk terhadap bapak. Aku khawatir, berkomentar hanya akan menjadikan diriku bias, tidak melihat bapak dari berbagai sisi. Bagaimanapun 'kan, dahulu bapak membuat beasiswa bidik misi, iya 'kan ya? Berkat beasiswa itu tentu, makin banyak teman-teman baik saya kini di ITB (karena banyak dari mereka yang bisa masuk karena bidikmisi.)

Tetap semangat pak. Ingat, bersikaplah seperti kesatria, bila kelak bapak menyadari ada kesalahan, akuilah dan minta maaflah secara terbuka.

Membentuk Garis Pantai dengan Alat GPS Sederhana


Ini namanya garis pantai suatu sisi dari Pulau Pramuka, di Kabupaten Administrasi Kepulauan Seribu, DKI Jakarta. Garis pantai ini dibentuk dari koordinat-koordinat bujur dan lintang yang dicatat oleh seluruh peserta ekskursi Oseanografi Lingkungan. Ada banyak banget datanya, ada 342 data! Itupun bahkan beberapa berbeda format. Ada yang format data bujur/lintangnya cuman sampai derajat, ada yang sampai menit, ada yang sampai detik. Perlu diubah-ubah dong satu-satu, untung saja dengan Ms. Excel, kita bisa memakai fungsi LEFT, RIGHT, atau MID untuk mengekstrak data yang kita perlukan.

Pada intinya, strategi kita plotting ke grafik ini adalah, sumbu x-nya adalah bujur, dan sumbu y-nya adalah lintang. Informasi yang kita ambil dari setiap data adalah cukup detik dari bujur dan lintangnya masing-masing, karena koordinat setiap titiknya sama hingga satuan menit. Maka, di sumbu x adalah detik dari bujur, dan sumbu y adalah detik dari lintang, per data dibuat satu titik, hingga akhirnya 342 data di-plot dalam bentuk titik-titik tersebut jadilah seperti itu..

Kalau datanya sudah dalam detik, alhamdulillaah dong, tinggal kita ekstrak saja detik dari masing-masing bujur dan lintang per data, dengan fungsi LEFT, RIGHT, atau MID. Kalau dalam menit bagaimana? Misalkan :

S 05°, 44,865'

Maka, cukup kita ambil 0,865 dari 44,865 tersebut, dengan.. MID kali ya? Kalau aku sih enaknya pakai MID, jadi tanda petiknya gak keambil hehe. Kemudian, kita kalikanlah :

0,865 x 60 = 51,9

Karena ini selatan, maka untuk menyesuaikan plottingnya (berada di sumbu negatif y) kita kali minus deh.

51,9 x -1 = -51,9

Untuk bujur, lakukan hal yang sama. Bedanya, ini enggak aku kali minus.

E 106°, 36.719
0,719 x 60 = 43,14

Maka datanya lengkap kini :

S 05°, 44', 51,9" ; E 106°, 36' 43,14"

Kita bandingkan dengan data yang sudah dalam detik :

S 05°, 44', 50" ; E 106°, 36', 53,1"

Cukup sesuai kan ya?

Untuk yang masih dalam derajat juga sama :

5,74893

Ambil menitnya :

0,74893 x 60 = 44,9358

Lihatlah bahwa menitnya sudah di 44', dan ini tidak akan berubah sampai manapun. GPS kita sudah benar artinya dalam mengambil data.

Ambil detiknya :

0,9358 x 60 =56,148.

Yap, segituan juga kan?

Untuk bujurnya :

106,61338

Ambil menitnya :

0,61338 x 60 = 36,8028

Lihatlah bahwa menitnya sudah di 36', dan ini tidak akan berubah sampai manapun. GPS kita sudah benar artinya dalam mengambil data.

Ambil detiknya :

0,8028 x 60 = 48,168

Tada~

Plotlah terus! Hingga akhirnya gambar di atas diperoleh :D

Untuk gambaran, kalau plottingnya dipotong-potong dalam kawasan wilayah, berikut adalah salah satu penggalannya :


Kelihatan kan ya? Ini tuh yang diujung-ujung pulau gitu kayake.jadi ada kayak puter balik gitu hehe. Kalau yang di sebelah kanan, itu adalah daratan, kalau yang di sebelah kiri, itu adalah lautannya. Gituuu, nah ditambah informasi yang kita peroleh selagi survey, kita bisa jelasin tuh kenapa garis pantainya seperti itu. Misal, kalau ada bagian yang lurus-lurus aja, itu ada breakwater nya. Kalau enggak rata yaa emang medannya seperti itu, dsb.

Buat yang gak percaya, berikut kuberikan gambar jelasnya, perbandingan antara garis pantai yang diplot dengan Google Maps :


Ada beberapa yang menyimpang sih~ Itu kayaknya salah catet data hahahaha. (Lihatlah titik yang nun jauh di lepas laut itu). Yaa, tapi pada intinya, metode "Sederhana" ini terbukti cukuplah ya untuk membentuk garis pantai. Dengan modal GPS sahaja.

Mudah-mudahan sharing kali ini berguna sob :)


This is it!